firdhanramadhansmart

Just another WordPress.com site

Pemikiran Plato Dan Aristoteles Dalam Kaitannya Dengan Cikal Bakal Konsep Demokrasi

on May 11, 2011

1. Pandangan Plato dan Aristoteles Mengenai Demokrasi
a. Plato
Nama Plato yang sebenarnya adalah Aristokles. karena dahi dan bahunya yang lebar, ia memperoleh julukan Plato dari pelati senamnya. Plato dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda “:Platos” (Kelebarannya / Lebar). Ada yang mengatakan Plato lahir di Athena, adapula yang mengatakan di pulau Aegenia. Begitu juga dengan tahun kelahirannya yang tidak diketahui pasti ada yang mengatakan Plato lahir tahun 428 SM, ada juga yang mengataakan tahun 427 SM.
Plato lahir dalam keluarga Aristokrat Athena yang turun temurun memiliki peranan penting dalam kehidupan politik di Athena. Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan Kodrus, raja terakhir Athena yang hidup sekitar 1068 SM. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon.
Pada zaman Yunani jumlah penduduknya sangat kecil , orang-orang Yunani tidak pernah mengenal sistem pemerintahan perwakilan. Badan yang berdaulat di Athena adalah Majelisnya, suatu pertemuan massa yang terdiri dari penduduk pria dewasa yang bersedia bersusah-susah untuk hadir.

Plato mengkritik demokrasi seperti itu, berdasarkan pendapatnya bahwa masyarakat merupakan hakim yang tidak becus dalam banyak masalah politik. Masyarakat cenderung memberikan penilaian berdasarkan kebodohan, dorongan hati, sentimen, dan prasangka. Yang paling buruk adalah demokrasi seperti itu mendorong munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak becus. Karena pemimpin memperoleh kepemimpinannya dari masyarakat, pemimpin cenderung mengikuti tingkat masyarakat demi keamanan kedudukannya. Lagi pula, karena dalam demokrasi” setiap individu bebas melakukan apa yang dikehendakinya”, pengaruhnya bersifat merusak.
Plato sangat kritis terhadap Demokrasi karena kekalahan Athena dalam perang Peloponesos pada 405 SM. Bagi Plato, kekalahan Athena itu akibat dari ketidak mampuan sistem pemerintahan Demokratis untuk memenuhi kebutuhan rakyat di bidang politik, moral, dan spiritual.
Kekalahan Athena merangsang Plato menempuh karir politik apalagi ketika terbentuk “oligarki-aristokrasi” semangat Plato terjun ke dunia politik semakin besar ketika kelompok tiga puluh tyrannoi yang salah satunya adalah paman dan spupu Plato yang menjadi diktator kejam dan jahat, bahkan Socrates guru yang amat dicintai, dikagumi, dan dihormati Plato hendak diperalat bahkan terancam hukuman mati karena Socrates menolak tawaran kelompok tersebut untuk menangkap dan membunuh seseorang yang tidak bersalah.
Kelompok tiga puluh tyrrannoi hanya berkuasa delapan bulan, karena disingkirkan oleh pemerintah demokrasi Athena. Pemulihan pemerintahan demokratis tersebut memberikan harapan baru kepada Plato dan Socrates gurunya, akan tetapi harapan Plato kandas ketika Socrates dihukum mati oleh pemerintahan demokratis dengan tuduhan sebagai seorang penjahat, yang merusak kaum muda dan tidak mempercayai dewa yang diimani di negara, malahan lebih percaya kerohanian yang baru.
Akibat kematian Socrates, ambisi Plato masuk ke dunia politik kandas. Plato mengambil kesimpulan bahwa sistem pemeritah pada masa itu sangat buruk dan moralitas penguasa amat bobrok, pemerintah akan menjadi baik dan mendatangkan kebahagiaan apabila kekuasaan dalam negara dipimpin oleh seorang filsuf. Ide “filsuf raja” itulah yang begitu mempengaruhi pemikiran Plato dalam Republic.
b. Aristoteles
Aristoteles dilahirkkan di Stragia kuno, Makedonia Yunani, pada tahun 384 SM. Ayah Aristoteles bernama Nikomados seorang dokter. Aristoteles dibesarkan dalam suasana ilmu kedokteran, ayahnya meninggal ketika ia masih keci, kemudian dia dibawah pindah ke Atarneus, sebuah kota Yunani dan diasuh oleh saudara sepupunya yang bernama Proksenos. Pada umur tiga puluh tahun ia belajar di akademi Plato, selama bertahun-tahun Aristoteles benar-benar menentang Plato secara mendasar.
Pemerintahan demokratis bagi Aristoteles, bukanlah sesuatu yang ideal melainkan hanya bentuk yang paling bisa berjalan. Preferensi personalnya terhadap monarki sangat jelas terlihat dalam bukunya Politics. Dia memberikan sedikit dukungan pada proposisi bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang paling sesuai dengan watak manusia baik dari sudut pandang teoritik maupun praktik.
Meskipun Aristoteles selalu menentang Plato, namun Aristoteles sepakat dengan Plato tentang sifat negatif dari demokrasi. Menurutnya, definisi kebebasan sebagai orang bebas hidup menurut kehendak sendiri, dan demi keinginan sendiri adalah tidak betul. Namun, seperti yang ditulisnya dalam politics: “Rakyat, secara individu berperluang besar untuk dikuasai oleh amarah, atau dikuasai oleh perasaan lainnya sehingga, dengan demikian, membuat penilain atau keputusan yang menyesatkan.
2. Konsep Demokrasi Plato dan Aristoteles
Melalui kritik Plato terhadap masyarakat-masyarakat yang tidak sempurna, di samping demokrasi, mencakup timarki, oligarki, dan idealnya tentang masyarakat yang sempurna. Yaitu suatu masyarakat yang diperintah oleh raja-raja filosof. Masyarakat aristokratis ideal seperti hal tersebut, merupakakan antitesis demokratis.
Sedangkan dalam rencana Plato mengenai bentuk demokrasi, bahwa masing-masing dan semua kelas memiliki hak yang sama untuk mempunyai wakil-wakilnya dalam tiga cabang dari badan penguasa, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Selain itu, menurut Plato pengetahuan merupakan kriteria untuk seorang penguasa yang sejati di dalam sebuah bentuk negara demokrasi. Penguasa yang sejati bukanlah orang yang memerintah sedemikian rupa sehingga berdamai dengan baik dengan rakyatnya, juga bukan orang yang memerintah dengan menghormati hukum.
Bagi Plato kepentingan orang-orang harus disesuaikan dengan kepentingan masyarakat. Dengan demikian, Plato lebih cenderung untuk menciptakan adanya rasa kolektivisme, rasa bersama, daripada penonjolan pribadi orang-perorang, menurut Plato pembagian pekerjaan dikalangan masyarakat, walaupun pembagian pekerjaan itu bukan terbatas pada ekonomi atau efisien kerja, melainan bersandar pada pada kesadaran manusia. Jadi kesimpulannya Plato berpendapat suatu bentuk negara akan berjalan dengan baik jika pembagian kerja dapat dijadikan sebagai konsekuensi dari adanya timbal balik serta rasa saling memerlukan di antara manusia dalam kehidupan masyarakat maupun negara. Plato mendasarkan pada prinsip larangan atas pemilikan pribadi, baik dalam bentuk uang, harta, keluarga maupun anak.
Aristoteles menganggap suatu rezim akan menjadi ideal ketika rezim itu merupakan perpaduan antara aristokrasi dan demokrasi, dimana menurut Aristoteles rezim tersebut akan berjalan dengan baik jika benar-benar memadukan (anggota-anggota) dari berbagai kelas menjadi satu komunitas tunggal .
Disinilah Plato bersepakat dengan Aristoteles yang menekankan konsepsi kedaulatan hukum. Namun, meskipun Aristoteles memandang demokrasi lebih rendah dibanding dengan otokrasi, kepercayaannya terhadap rakyat lebih tulus dibandingkan Plato. Inilah alasan yang melatar belakangi kritik Aristoteles terhadap Plato gurunya. Tampaknya, Plato lebih menekankan elemen monarki atau elemen oligarki dalam perpaduan tersebut.
Di dalamnya monarki menjadi cair karena dibagi –bagi diantara beberapa pejabat, sedangkan demokrasi menjadi lemah karena dibatasinya hak-hak pemilihan dan kontrol pada suatu majlis primer yang kecil dan orang-orang terpilih. Rancangan Plato paling banter dapat disebut oligarki atau monarki konstitusional, rancangan Aristoteles merupakan suatu demokrasi yang terbatas, yang dia sebut sebagai polity suatu paduan organis demokrasi dan aristokrasi (dalam pengertian bahwa para pejabatnya adalah sekolompok kecil orang pilihan).
3. Bentuk Negara Ideal menurut Plato dan Aristoteles
Menurut Plato ada enam bentuk Negara, yakni tiga bentuk yang mengenal hukum dan tiga bentuk yang tidak mengenal hukum. Dari golongan yang mengenal hukum, yaitu negara yang memiliki undang-undang, bentuk yang terbaik adalah monarki, lalu aristokrasi, dan kemudian demokrasi, oligarki, dan yang terburuk adalah tirani.
Yang menarik dari teori Plato tentang bentuk negara adanya dua bentuk demokrasi, yakni demokrasi yang dari negara yang memiliki undang-undang dan demokrasi yang tidak memiliki undang-undang. Demokrasi yang memiliki undang-undang adalah bentuk yang terburuk, sedangkan yang tidak memiliki undang-undang adalah bentuk yang terbaik. Jelas terlihat bahwa ke dua bentuk demokrasi itu memiliki tempat yang lebih bai dari oligarki yang di dalam Republic memiliki peringkat pertama setelah demokrasi.
Dalam negara ideal Plato, semua orang harus hidup dengan moralitas yang baik dan terpuji. Apalagi bagi yang memerintah dan berkuasa harus memiliki segala macam ilmu pengetahuan dan sanggup berfikir secara filsafat
Plato juga beranggapan bahwa negara ideal hanya akan tercapai atas dasar budi penduduknya, menurut Plato anak umur 10 tahun ke atas adalah urusan negara. Dasar utama pendidikan anak-anak adalah gymnastic (senam) dan musik selain diberikan pelajaran menulis, membaca, dan menghitung, budi yang halus dengan menjauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa, serta mudah menimbulkan nafsu buruk. Selain guna membina solidaritas, suatu negara tidak akan kuat jika tidak percaya pada Tuhan
Secara keseluruhan bagi Aristoteles, suatu negara bisa dikatakan ideal jika di dalam suatu negara dapat menghasilkan dan mendukung suatu kelas dari orang-orang terhormat yang berbudaya seperti dirinya, biarpun dia menyadari bahwa semua itu tidak mungkin terjadi.
Aristoteles beranggapan, jika ingin memperoleh sebuah tujuan negara, yang dianjurkannya adalah mengenai cara mempertahankan tirani yang sepenuhnya seperti yang dianjurkannya mengenai cara mempertahankan tirani yang sepenuhnya, seperti yang telah dirincikannya dengan sungguh dingin. Aristoteles beranggapan untuk menjalankan suatu pemerintahan tirani yang tepat, maka perlu diciptakan kebijakan ketat. Yakni kegiatan kultural yang bersifat liberal harus dilarang dan rakyatpun harus selalu dibuat takut, miskin, serta siap bekerja untuk membangun monumen-monumen publik yang dahsyat. Selain itu, keadaan juga kadang-kadang harus diselingi dengan perang untuk membuat rakyat tetap waspada dan memperlihatkan kebutuhan mereka untuk mempertahankan pemimpin yang hebat.
Konstitusi yang ideal itu menurut Aristoteles, semacam campuran dari oligarki, pemerintahan orang-orang tertentu berdasar pada harta, darah, atau keturunan, kedudukan, pendidikan dan sebagainya di satu pihak dan demokrasi, pemerintahan orang banyak, jadi berdasarkan dari pihak yang lain.
Aristoteles juga telah membagi kenegaraan dalam fungsi pembahasan, ini harus diletakkan di atas segalanya, baik berlaku pada oligarki atau demokrasi, dan penguasa yang tahu juga bersikap patuh dan tunduk. Apabila hukum merupakan ikatan moral, maka keadilan adalah kebjikan.
Negara ideal menurut aristoteles dari segi ukran adalah seperti polis atau city state, dikarenakan negara memiliki jenjang tertinggi dari satuan keluarga dengan desa, negara memiliki kekuasaan mutlak dan absolut. Ada tiga bentuk negara menurut Aristoteles, yakni monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Dari ketiga bentuk negara tersebut yang paling mungkin dalam kenyataan adalah bentuk demokrasi atau politea (polis). Demokrasi seakan memiliki konotasi negatif dan Aristoteles tidak menyebutnya untuk negara ideal.

DAFTAR PUSTAKA
Rapar, J.H. Filsafat Politik Plato Seri Filsafat Politik No1. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.
Schmandt, Henry J. Filsafat Politik Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern.Yogyakarta:Pustaka pelajar (Anggota IKAPI), 2002.
Strathern, Paul. 90 Menit Bersama Aristoteles. Jakarta: Eirlangga, 2001
Syam, Firdus. Pemikiran Politik Barat. Jakarta:Bumi Aksara, 2007.
Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeni Filsafat Politik Islam. Bandung: Mizan media
utama (MUU), 2002.


2 responses to “Pemikiran Plato Dan Aristoteles Dalam Kaitannya Dengan Cikal Bakal Konsep Demokrasi

  1. GHILANKS says:

    sip sip ok.. ternyata plato itu aristotels toh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: