firdhanramadhansmart

Just another WordPress.com site

Silent Way

on June 8, 2011

METODE DIAM (الطرقة الصامته)
a. Konsep dasar sailent way
Sailent way (metode guru diam/ al- thariqah al- shamitah) dicetuskan oleh caleb Gategno (1972), seorang ahli pengajaran bahasa yang menerapkan prinsip-prinsip kognitivesme dan ilmu filsafat dalam pengajaranya. Ia mencermati konsep filsafat stevick (1979) yang di jadikanya sebagai ide dasar untuk memunculkan metode ini antara lain ;
a. Diri (the self) seseorang sama dengan tenaga yang bekerja dalam tubuhnya melalui panca indra, dan bertujuan untuk mengatur masukan-masukan dari luar. Diri itu kemudian membuang sesuatu yang di anggap tidak berguna dan menyimpan sesuatu yang di anggap merupakan bagian dari dirinya.
b. Diri seseorang itu mulai bekerja pada waktu manusia di ciptakan dalam kandungan. Sumber awal tenaga itu adalah DNA (deoxyribonucleic acid) yang merupakan dasar molekul keturunan dalam organisme-organisme manusia sehigga diri dapat mengelolah masukan-masukan dari luar, di samping itu diri menambahkan tenaga untuk menampung masukan-masukan selanjutnya.

Inilah secara umum pandangan gategno, yang mengamati hal-hal yang terjadi pada manusia secara berulang-ulang, untuk mengembangkan metode guru diam.
Selanjutnya ia melihat bahwah belajar pada hakekatnya melibatkan dua langkah;
a. Belajar adalah pekerjaan yang di sengaja dilakukan dengan sadar dan diperintah oleh kemauan yang keras (will). Hal ini di atur oleh otak yang menghasilkan aktivitas mental.
b. Belajar adalah proses mengasimilasikan hasil-hasil aktivitas mental melalui pembentukan gambaran batin (image) yang baru atau perubahan gambaran batin yang lama
Dinamakan metode guru diam karena guru lebih banyak diamnya dari pada berbicara saat proses belajar mengajar berlangsung. Namun sebenarnya tidak hanya guru yang diam, pelajarpun memiliki saat-saat diam untuk tujuan tertentu. Menurut Arsyad (2004;28) guru di mintak diam di dalam metode ini sekitar 90% dari alokasi waktu yang di pakai, tetapi ada juga saat-saat tertentu bagi pelajar untuk diam tidak membaca, tidak menghayal, tidak juga menonton video, melainkan berkonsentrasi pada bahasa asing yang baru saja di dengar. Keunikan lainya adalah penggunaan alat peraga berupa balok/tonkat kayu yang biasa disebut Cuisenaire rods, begitu juga isyarat jika diperlukan. Alat peraga ini digunakan selain sebagai media untuk mengajarkan konstruksi-konstruksi kalimat, juga untuk memperkuat konsentrasi para pelajar saat materi di sajikan. Satu materi biasanya diberikan satu kali, tudak di ulangi. Begitu materi di berikan konsentrasi di perkuat karna pelajar menyadari bahwakh tidak di ulangi. Prinsip yang di pegang adalah adanya aspek terhadap kemampuan pelajar untuk mengajarkan masalah-masalah bahasa serta kemampuan untuk mengingat informasi tanpa adanya verbilisasi dan bantuan dari guru.
Materi yang bdigunakan dalam metode guru diam ini berdasarkan struktur bahasa. Bahsa di pandang sebagai kelompok-kelompok bunyi yang di hubungkan dengan makna-makna tertentu. Dan diatur menjadi kalimat-kalimat melalui aturan-aturan bahasa. Pelajaran di sajikan secara bertahap dari unsure yang mudah ke yang sukar, sedangakan materi kosa kata dan struktur kalimat di sajikan sedikit emi sedikit sehingga menjadi unit-unit yang kecil. Unit belajar bahasa dalam metode ini adalah kalimat. Guru dalam hal ini mangajarkan satu makna dari suatu kalimat tanpa menyebutkan makna-makna lain yang mungkin terdapat dalam komunikasi sehari hari yang wajar. Para pelajar di berikan pola-pola kalimat bahasa asing dan di berikan aturan-aturan bahasa melalui proses induktif. Sebaliknya juga kosa kata mendapat tempat yang penting.
Metode guru diam memiliki tujuan pokok sebagai berikut ;
a. Melatih keterampilan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing yang di pelajari secara lisan sehinngah mampu mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan penutur asli.
b. Melatih keterampilan para pelajar dalam menyimak pembicaraan lawan bicara. Menyimak di pandang sebagai unsure yang cukup sulit apalagi jika bahasa itu di bawahkan oleh penutur aslih, jadi sebaikya cermat dalam menyimak.
c. Melatih pelajar agar mampu mengusai tata bahasa yang praktis. Tata bahasa diberikan dengan bertahap dengan proses induktif, dan tidak terlalu menonjolkan konsep secara verbal.

I. Langkah-langkah penggunaan silent way
Langkah-langkah yang bias di ambil oleh guru dalam menggunakan metode ini secara garis besarnya antara lain ;
a. Pendahuluan. Guru menyediakan alat peraga berupa; (a) papan peraga yang bertulisakan materi (fidel chart). Papan ini berisi ejajan dari semua suku kata dalam bahasa asing yang di pelajari. (b) tongkat/balok kayu (cuisenenaire rods). Tonkat yang biasanya berjumlah sepuluh dengan warna yang berbeda-beda yang nantinya di gunakan sebagai alat peraga dalam membentuk kalimat lengkap.
b. Guru menyajikan satu butir bahasa yang di pahami, penyajianya hanya satu kali saja. Dengan demikian ia memaksa para pelajar untuk menyimakdengan baik. Pada permulaan, guru pun tidak mengatakan apa-apa, tetapi hanya menunjukkan pada symbol-simbol yang tertera di papan peraga. Pelajar mengucapkan symbol yang di tunjuk guru dengan melafal dengan keras, mula-mula secara serentak. Kemudian atas petunjuk guru, satu persatu pelajar melafalkanya. Langkah ini adalah tahap permulaan.
c. Sesudah pelajar mampu mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa asing yang di pelajari, guru menyajikan papan peraga yang kedua yang berisi kosa kata yang terpilih, kosa kata ini di ambil dari kalimat-kalimat yang paling sering di gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kosa kata ini sangat berguna bagi para pelajar dalam menyusun sebuah kalimat secara mandiri, langkah ini juga masih tahap permulaan.
d. Guru menggunakan tongkat warna-warni yang trlah di sediakan untuk memancing para pelajarberbicara bahasa asing yang sedang di pelajari, pada saat ini guru mengangkat tongkat dan berkata, misalnya ;
هذا العصا ا حمر
Setelah itu guru mengangkat tongkat lain yang berlainan warna, misalnya ;
هذا العصا ا ز رق
Dengan demikian para pelajar akan terangsang untuk membuat kalimat lengkap secara lisan dengan kata-kata yang telah mereka kuasai sebelumnya. Dalam hal ini penggunaan isyarat yang palinng benar cukup penting sebagai pengganti penjelasan verbal.
e. Sebagai penutup, guru bias mengadakan pengetesan keberhasilan pelajar dalam penguasaan kosa kata yang telah di ajarkan dengan mengunakan perintah-perintah yang sedapat mungkin tidak secara verbal seperti halnya pada poin nomor 4 di atas. Dalam pengetesan ini tentu harus memperhatiakn waktu yang tersedia, tidak mungkin dengan keterbatasan waktu pengetesan dapat di berikan ke seluruh pelajar.

II. Kelebihan dan kekurangan silent way
Sebagaimana metode- metode lain silent way juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Di antara kelebihanya adalah;
a. Tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dalam metode ini berfungsi untuk mendorong serta membentuk respon pelajar. Maka dalam hal ini kelas menjadi aktif.
b. Mendidik untuk berkonsentrasi terhap materi pelajaran juga para pelajar di tuntut untuk selslu berusaha sendiri dalam belajar.
c. Karena tidak ada pembetulan kalau ada kesalahan yang dilakukan oleh pelajar, dan tidak ada keterangan mak pelajar di dorong untuk membuat analogi-analogi sendiri dengan cara membuat kesimpulan dan rumusan aturan atuaran sendiri. Ini melatih mereka dalam membuat kesimpulan dan keputusan secara cepat.
Di antara kekuranganya adalah ;
a. Silent way memberikan kebebasan kepada pelajar untuk menentukan pilihan-pilihan dalam situasi-situasi yang di sajikan. Cara ini terkesan bahwah pelajar dapat menguasai situasi belajar, namun dalm kenyataanya guru yang masih berperan aktif dalam proses belajar mengajar (teacher-centered).
b. Jika di telaah secara seksama, silent way di gunakan untuk pelajar tingkat pemula yang hanya di berikan materi-materi pelafalan suku kata dan membuat konstruksi kalimat-kalimat sederhanaya. Sedangkan membaca dan mengarang nampaknya akan sulit di ajarkan demgan metode ini.
c. Sebagaimana di jelaskan dalam konsep sailent way bertujuan membimbing para pelajar agar mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan penutur asli, maka mereka di tuntut untuk menguasai lafal yang benar, intonasi, irama, dan jeda dalam berbicara dengan bahasa asing yang dipelajari, proses belajar mengajar yang di gariskan oleh metode ini nampaknya tidak meberi jaminan untuk mencapai tujuan tersebut.
d. Pada dasarnya sailent way pada akhirnya cenerung memiliki banyak kesamaaan dengan audiolingual, sebab bagaimanapun pelajar yang di beri materi satu kali akan sangat membutuhkan pengulangan, apalagi mereka yang baru mengenal bahasa asing yang sedang dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Izzan ahmad, 2009, metodologi pembelajaran bahasa arab, bandung ; humaniora.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: