firdhanramadhansmart

Just another WordPress.com site

Menejemen Konflik

on May 13, 2011

Awal kali Dahrendrof mempublikasikan teori konflik menggunakan cara yang berbeda dengan konsep yang dominan, yaitu fungsionalisme. Ia berpendapat bahwa konflik dan perubahan dalah wilayah kehidupan masyarakat yang telah diubah oleh Dahrendrof dengan mengembangkan analisis rinci dari masalah metodologis masyarakat konflik, teori konflik kepentingan kelompok, dan mengembangkan unsure-unsur tertentu dari pendekatan marxis,
Orientasi dari teori konflik tidak jauh beda dengan fungsionalisme structural yaitu pada studi struktur dan institusi social. Pendirian kedua teori inipun bias disejajarkan dengan arah yang berlawanan. Sementara para fungsionalis menganggap masyarakat adalah statis atau masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang; para teoritisi konflik melihat bahwa setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Fungsionalis menekankan keteraturan sebagai sumber integrasi dan keseimbangan, teoritisi konflik menekankan konflik sebagai sumber perubahan.

Dahrendrof berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah, yaitu consensus dankonflik. Karenanya sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian; teori konflik dan teori consensus. Tidak akan pernah ada masyarakat tanpa konflik dan consensus yang menjadi persyaratan satu sama lain. Konflik tidak akan pernah terjadi tanpa adanya consensus sebelumnya; begitu juga sebaliknya.
Konflik berfungsi untuk menciptakan perubahan dan perkembangan, dia mengatakan bahwa apabila kelompok-kelompok, pertentangan muncul, maka mereka akan terlibat terhadap tindakan-tindakan yang terarah kepada perubahan di dalam struktur social jika konflik itu adalah intensif, maka perubahan akan bersifat radikal dan jika konflik itu di wujudkan dalam bentuk kekerasan maka perubahan struktur akan berubah dengan tiba-tiba.

Dahrendrof yang berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah, yaitu konsensus dan konflik. Karenanya sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian yakni teori konflik dan teori konsensus. Tidak akan pernah ada masyarakat tanpa konflik dan konsensus yang menjadi persyaratan satu sama lain. Konflik tidak akan pernah terjadi tanpa adanya konsensus sebelumnya, begitu juga sebaliknya.
Kasus yang terjadi pada supporter Aremania dengan supporter Bonek yang sangat fanatik dalam mendukung tim kesebelasannya, juga termasuk salah satu kasus Fanatisme para supporter yang akan melahirkan gesekan-gesekan antar supporter yang berbeda. Gesekan-gesekan ini membawa konsekuensi lahirnya kekerasan (tawuran) antar supporter.
Pertentangan yang terjadi dalam kelompok supporter Bonek Surabaya dan Aremania Malang jugaa memunculkan kategori kelas yang saling memperebutkan sesuatu yang terbatas di dalam suatu kompetisi sepak bola. Sehingga hubungan saling mempengaruhi antar sesama kelompok supporter sepak bola Surabaya dan Malang ini terbangun atas nuansa pertentangan yang berdasarkan kepentingan atau maksud tertentu yang sebelumnya terdapat pada ruang lingkup yang mengitarinya.

Sumber:
Gorge Ritzer & Douglas J Goodman, “Modern Sociological Theory”, 6th edition, terj. Alimandan, Teori Sosiologi Modern
Perspektif Konflik menurut Karl Marx, Ralf Dahrendrof, Lewis Alfred Coser, dan George Simmel. http://bloggertouch.appspot.com/syahidismail/post.
Franklin Foer, Memahami Dunia Lewat Sepak Bola : Kajian Tak Lazim tentang Sosial-Politik Globalisasi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: