firdhanramadhansmart

Just another WordPress.com site

Negosiasi

on May 19, 2011

Negosiasi adalah pembicaraan antara dua pihak atau lebih baik individual maupun kelompok untuk membahas usulan-usulan spesifik guna mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.negoisasai mempunyai unsure penting yaitu:
A.Unsur Penting Negoisasi
a. Negoisasi merupakan suatu bentuk ketrampilan yang esensial untuk meraih sukses. Alasannya adalah, dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara kita harus saling berhubungan satu sama lain. Dimana masing-masing pihak berusaha untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan. Hal ini dapat menimbulkan konflik atau masalah.
b. Negoisasasi suatu bentuk kegiatan pemecahan masalah. Beberapa orang berpandangan bahwa negoisasi identik dengan intimidasi pamer kekuatan, agar salah satu pihak memperoleh apa yang dibutuhkan dengan cara paksa, akan tetapi cara tersebut tidak benar, karena negoisasi yang baik adalah pemecahan masalah yang dapat diterima semua pihak.
c. Pelaksanaan negoisasi mencerminkan kepribadian seseorang atau kelompok, kerena pelaksanaan negoisasi dapat bervariasi sesuai dengan karakter dan ketentuan imajinasi masing – masing individu.

B. Teknik Negosiasi
Dalam melaksanakan negosiasi, ada beberapa teknik yang dapat dijadikan pedoman, agar hasil yang dicapai sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu:
• Teknik mengulur waktu (push-push-pull), teknik ini sangat penting dipergunakan oleh para pemula, dimana negosiator memperhatikan adversary (mengulur) dan kemudian diarahkan perhatiannya agar memihak kepada negosiator ( menarik ). Kunci keberhasilan cara ini adalah pengetahuan akan sasaran yang akan dicapai dan aspek mana yang akan dilepaskan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah harus tahu prioritas butir-butir masalah dalam negosiasi serta melakukan negosiasi dengan wajar dengan suasana akrab. Teknik ini diergunakan untuk negosiasi penting.
• Teknik mengalah untuk menang (lose-win), dalam teknik ini negosiator mengorbankan butir-butir masalah yang lemah dan mempertahankan yang kuat. Bobot dari butir – butir masalah masing – masing pihak berbeda menurut kebutuhannya masing-masing. Kemungkinan, butir-butir yang dikorbankan oleh negosiator mempunyai bobot yang lebih bagi adversary, sehingga pada akhir negosiasi hasilnya adalah sama-sama menang ( win-win)
• Teknik membagi perbedaan (split the difference), teknik penyelesaian negosiasi dengan membagi hasil perbedaan antara negosiator dengan advesary. Teknik ini hanya berlaku untuk perundingan harga. Contooh kasus sederhana: negosiator menawarkan harga Rp.100 juta, adversary menawar harga dengan Rp. 90 juta.
• Teknik saling mendukung (piggiback). Istilah ini artinya menyelesaikan satu butir masalah negosiasi untuk memenangkan butir-butir masalah berikutnya. Teknik ini biasanya dipergunakan pada pertengahan proses negosiasi, dan sebaiknya tidak dipergunakan berturut-turut dalam suatu proses. Karena teknik ini akan mudah dibaca. Syarat utama penerapan teknik ini adalah harus tahu persis mana butir masalah yang penting.
Taktik Dalam Negosiasi
Dalam proses negosiasi, pihak-pihak yang berselisih seringkali menggunakan berbagai taktik agar dapat memperoleh hasil negosiasi yang diinginkan. Ada beberapa taktik yang umum dilakukan oleh para negosiator.
• Membuat agenda. Taktik ini harus digunakan karena dapat memberikan waktu kepada pihak-pihak yang berselisih setiap masalah yang ada secara berurutan dan mendorong mereka untuk mencapi kesepakatan atas keseluruhan paket perundingan.
• Bluffing. Taktik klasik yang sering digunakan oleh para negosiator yang bertujuan untuk mengelabui lawan berundingnya dengan cara membuat distorsi kenyataan yang ada dan membangun suatu gambaran yang tidak benar.
• Membuat tenggat waktu (deadline). Taktik ini digunakan bila salah pihak yang berunding ingin mempercepat penyelesaian proses perundingan dengan cara memberikan tenggat waktu kepada lawannya untuk segera mengambil keputusan.
• Good Guy Bad Guy. Taktik ini digunakan dengan cara menciptakan tokoh “jahat’ dan “baik” pada salah satu pihak yang berunding. Tokoh “jahat” ini berfungsi untuk menekan pihak lawan sehingga pandangan-pandangannya selalu ditentang oleh pihak lawannya , sedangkan tokoh “baik” ini yang akan menjadi pihak yang dihormati oleh pihak lawannya karena kebaikannya. Sehingga pendapat-pendapat yang dikemukakannya untuk menetralisir pendapat Tokoh “jahat”, sehingga dapat diterima oleh lawan berundingnya.
• The art of Concesión. Taktik ini diterapkan dengan cara selalu meminta konsesi dari lawan berunding atas setiap permintaan pihak lawan berunding yang akan dipenuhi .
• Intimidasi. Taktik ini digunakan bila salah satu pihak membuat ancaman kepada lawan berundingnya agar menerima penawaran yang ada, dan menekankan konsekuensi yang akan diterima bila tawaran ditolak.

C. Permasalahan dan Analisa
1. Kasus Pilkada Pada tahun 2000, sekitar bulan April di salah satu kabupaten di Pulau Sumatera melangsungkan pesta demokrasi, yaitu pemilihan Bupati/Wakil Bupati daerah setempat (belum pemilihan langsung). Lobi-lobi dan negosiasi antara para calon dengan partai politik sebagai perahu tumpangan dan para anggota DPRD sebagai pemilik suara (one man & ndash; one vote) berlangsung “ dahsyat”. Berbagai pendekatan dilakukan; mulai dari lobi-lobi ringan dengan memberikan bingkisan lebaran kepada para anggota Dewan, sampai dengan perundingan-perundingan yang berat, seperti: money politic yang bervariasi &;one man two hundred; one man one car; pilih kuda atau kijang (di teror atau menerima hadiah mobil kijang), melakukan pendekatan paksa yaitu memboyong anggota Dewan yang diperkirakan akan memilih calon lainnya kalau tidak boleh dikatakan & mengkerangkeng; yang dikenal dengan istilah serangan fajar. Bentuk/model pendekatan manapun yang dipakai oleh para Tim Sukses dari masing-masing calon, kesemuanya adalah terpulang kepada kemampuan berkomunikasi yang komunikabilitas. Hanya saja teknik yang digunakan ada yang bersifat kooperatif / teknik lose-win dan ada pula yang kompetitif yaitu dengan menghalalkan segala cara pokoknya menang (terpilih menjadi Bupati/Wakil Bupati). Pada akhirnya calon yang kurang efektif dalam lobi-melobi dan bernegosiasi akan tersingkir, walaupun oleh masyarakat calon yang menang bukanlah calon yang tepat dan tidak berbobot atau tidak pantas untuk memimpin daerah. Tetapi kalau sudah terpilih oleh anggota Dewan Yang Terhormat (sekarang pemilihan langsung) mau apa lagi. – “Garbage in Garbage out”, kalau yang terpilih berkualitas sampah, kepemimpinannya juga seperti sampah.
2. Kasus-kasus Pemberontakan Dalam Negeri Sepanjang sejarah telah beberapa kali terjadi pemberontakan yang bertujuan ingin melepaskan diri dari NKRI dan merdeka (mendirikan negara sendiri), seperti: RMS di Maluku; Permesta di Sulawesi Utara; PRRI di Sumatera Brat; GAM di Aceh, dan OPM di Papua. Selain itu ada pula pemberontakan yang bertujuan mengganti ideologi Pancasila (DI/TII dan G.30.S/PKI). Namun mengapa perbedaan dan pertentangan yang melahirkan pemberontakan dapat terjadi, jawabannya boleh jadi karena kegagalan lobi dan negosiasi. Walaupun peristiwa pemberontakan tersebut berhasil ditumpas dengan senjata dalam arti penyelesaiannya menggunakan pendekatan menang-kalah (kompetitif). Sebagai contoh, bahwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah beberapa tahun dilakukan penumpasan dengan angkat senjata oleh TNI/Polri namun tidak tuntas, kemudian dilakukan lobi-lobi dan perundingan/negosiasi yang pada akhirnya menghasilkan persetujuan (MOU Helsinki) yang saling menguntungkan (menang-menang) suatu pendekatan kooperatif. Pendekatan kooperatif dilakukan, karena selain penerapan pendekatan kompetitif dengan memerangi GAM (yang mendapat bantuan LN?) dirasa kurang efektif juga memang cara-cara kekerasan tidak disukai oleh dunia internasional.
3. Kasus Perang Dingin Amerika Serikat & Uni Soviet. Ketika Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memuncak dan akan berubah menjadi Perang Terbuka, karena Presiden Uni Soviet mengancam akan mengangkat senjata (Perang Terbuka). Untuk menjawab tawaran berdasarkan ancaman senjata yang diperkirakan tidak akan menguntungkan Amerika, Presiden J.F. Kennedy menggertak dengan berkata: “I can’t loose ! Why ? I will tell you why. Becaouse I have knowledge, Courage and enthuasm” Dengan gertakan tersebut telah membuat dan memudarkan keinginan Soviet untuk berperang secara terbuka. Perang Terbuka tidak terjadi. Dalam kasus ini menggunakan model kompetitif (menangkalah) yaitu pihak yang menang adalah Amerika karena Perang Terbuka tidak terjadi. Namun tidak demikian halnya dengan sengketa AS dan Irak. Dalam kasus ini jelas terlihat betapa penting arti sebuah lobi. Memang di Era Globalisasi sekarang ini, kalau sesuatu perbedaan/pertikaian tidak dapat diselesaikan melalui perundingan dengan lobi-lobi yang menyakinkan, niscaya akan terjadi lagi Perang Dunia III atau setidaknya akan terulang Perang Irak (Perang Teluk) dan/atau interpensi/teror-teror lainnya. E. Penutup Setelah memahami konsep Lobi dan Negosiasi serta mencermati dan mensiasati kasus-kasus/peristiwa-peristiwa tentang beberapa perbedaan/ pertentangan dan persengketaan dalam pergaulan di tingkat lokal, nasional, dan internasional, maka dirasakan bahwa “Konsep lobi, dan negosiasi sudah menjadi suatu keharusan global” kalau tidak boleh dikatakan sebagai suatu kemutlakan.

D. Fungsi Lobi
Lobi merupakan kegiatan yang berupaya agar segala sesuatu berjalan tidak melalui kekuasaan atau koersi melainkan melalui persuasi. Kegiatan lobi yang dilakukan perusahaan-perusahaan umumnya mempekerjakan para pelobi profesional atau juga mempekerjakan mantan pejabat pemerintahan Fungsi lobi adalah untuk melindungi kepentingan organisasi/lembaga bisnis dengan membuka komunikasi pada pihak pengambil keputusan. Ada 3 jenis lobi, yaitu sebagai berikut.
1. Lobi tradisional yang menggunakan pelobi untuk mendekati pengambil keputusan.
2. Lobi akar rumput, yang menggunakan masyarakat untuk mempengaruhi pengambil keputusan.
3. Lobi Political Action Committee, yakni komite yang dibentuk perusahaan-perusahaan besar agar wakilnya dapat duduk di parlemen atau pemerintah.
E. Fungsi Umpan Balik dalam Mendengarkan
Pepatah lama mengatakan, fakta bahwa kita mempunyai dua telinga dan satu mulut mengisyaratkan bahwa seharusnya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Berbagai kajian menunjukkan bahwa ketidakmampuan mendengarkan ini berisiko, berbahaya dan terkadang menimbulkan akibat yang fatal, terutama dalam Badan/Perusahaan. Karena itu, bukan tidak mungkin banyak organisasi (perusahaan-perusahaan) di lingkungan kita belakangan ini diprotes oleh masyarakat dan pekerjanya disebabkan ketidakmampuan para pemimpinnya untuk mendengarkan orang lain khususnya publik.
Mendengarkan (listening) berbeda daripada mendengar (hearing). Yang pertama bersifat aktif, sedangkan yang kedua bersifat pasif (sekedar proses fisiologis dan bersifat mekanis). Meskipun mendengarkan adalah perilaku komunikasi paling awal yang dipelajari manusia, dan baru berbicara, membaca dan menulis, anehnya orang lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Itu karena berbicara merupakan sarana untuk menarik perhatian orang lain, sebagai aktualisasi diri, dan memperoleh pengakuan sosial bahwa kita cerdas, intelektual, berwibawa dan berkuasa. Sebaliknya, mendengarkan diasosiasikan dengan kepasifan, kelemahan dan kekurangan otoritas atau kuasa.
Sebenarnya mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara, kalaupun tidak lebih penting. Banyak orang gagal dalam hidup mereka karena mereka gagal mendengarkan. Dalam ilmu komunikasi, mendengarkan adalah mekanisme perolehan umpan balik (feedback) yang berguna bagi komunikator untuk mengetahui apakah komunikasinya berjalan baik, sesuai dengan harapan khalayak atau publik. Maka dari itu diperlukan adanya fungsi umpan balik dengan mengadakan Evaluasi program.
Evaluasi itu bisa dibuat berdasarkan tujuan akhir yaitu adakah pendapat publik telah berubah seperti yang diharapkan oleh organisasi. Antaranya ialah siapakah yang telah menukar pendapat, siapakah yang telah berubah sikap, adalah masalah yang telah diketahui untuk diselesaikan atau apakah pendapat publik tentang informasi yang mereka terima dari Badan/Perusahaan.
Biasanya, Humas haruslah membuat penilaian atau evaluasi pada beberapa tahap, yaitu tahap pelaksanaan agar dapat diganti strategi yang kurang rapi atau tidak tercapai dan tahap akhir untuk meninjau dampak secara keseluruhannya.
F. Teknik mendengarkan aktif
How to be listener ???
a. Tetapkan bahwa lawan bicara anda adalah rekan/atasan yang baik.
b. Simpanlah adanya emosi naluri untuk bersaing
c. Perhatikan apa yang menjadi pokok pembicaraan
d. Tatap lawan bicara anda dengan penuh keramahan
e. Masuklah dalam alam pembicaraan dan anda akan menghayatinya
f. Hindari memutus pembicaraan
g. Jawablah pertanyaan sesuai dengan pokok pembicaraan, hindari jawaban yang melingkar.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Negoisasi mempunyai unsure penting yakni, negoisasi merupakan suatu bentuk ketrampilan yang esensial, Negoisasasi suatu bentuk kegiatan pemecahan masalah, Pelaksanaan negoisasi mencerminkan kepribadian seseorang atau kelompok
Ada empat teknik dalam bernegosiasi yaitu:Teknik mengulur waktu (push-push-pull),Teknik mengalah untuk menang (lose-win),Teknik membagi perbedaan (split the difference), dan Teknik saling mendukung (piggiback).
Dalam bernegoisasi terdapat teknik mendengarkan aktif, meliputi Tetapkan bahwa lawan bicara anda adalah rekan/atasan yang baik, Simpanlah adanya emosi naluri untuk bersaing, Perhatikan apa yang menjadi pokok pembicaraan, Tatap lawan bicara anda dengan penuh keramahan, Masuklah dalam alam pembicaraan dan anda akan menghayatinya, Hindari memutus pembicaraan dan Jawablah pertanyaan sesuai dengan pokok pembicaraan, hindari jawaban yang melingkar.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, elvinaro. Public relations praktis, widya padjajaran, Jakarta; 2009
Olil, halena. Opini public, PT. Indeks, Jakarta; 2007
Tarmudji, tarsis, Kiat Melobi, Suatu Pendekatan non Formal, Yogya, Libery; 1993


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: