firdhanramadhansmart

Just another WordPress.com site

KEONG RACUN DALAM FILSAFAT BAHASA

on June 20, 2011

Siapa yang gak tahu lagu “Keong Racun” yang feomenal itu?? Dari anak balita sampai para manula di seluruh Indonesia bahkan sampai mancanegara mengenalnya. Awal mulanya, lagu ciptaan Kang Ebik itu tidak begitu dilirik oleh masyarakat. Tapi setelah duo mojang Bandung Sinta dan Jojo melypsing dan kemudian mengupload lagu ini pada salah satu jejaring sosial youtube, lagu ini menjadi tak asing di telinga kita.
Lagu ini berbeda dengan lagu-lagu pada umumnya yang kebanyakan menceritakan tentang kisah cinta yang indah, kenangan bersama kekasih, patah hati sampai mau mati, atau lagu-lagu melankolis nan romantis lainnya. Lagu yang menceritakan tentang cowok perayu kelas teri yang suka mempermainkan wanita ini mempunyai lirik dengan bahasa gaul beraksen ke-jawa barat-an dan apa adanya bahkan terkesan vulgar.
Coba dengar dan pahami kata dalam setiap baitnya. berikut adalah potongan bait yang dianggap paling menonjol:

……
Mulut komat-kemot matanya melotot
Lihat body denok pikiranmu jorok
Mentang-mentang bohay aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check in dan santai
…….

Bila kita memahami bahasa, berarti turut memperhitungkan berbagai unsur yang melekat pada bahasa yang digunakan, dan salah satunya adalah filsafat bahasa. Tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang konsep atau proposisi dengan menyatakan secara jelas dan tepat apa yang dimaksudkan dengan konsep-konsep atau proposisi-proposisi dalam ilmu filsafat. Sedangkan Wittgenstein berpendapat bahwa tugas filsuf adalah mengadakan klarifikasi aneka macam penggunaan dan mengadakan verifikasi, apakah penggunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru, bermakna atau tidak. Filsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa bahkan menjadi terapi bagi pemakaian bahasa yang berlebihan.
Ditinjau dari segi filsafat bahasa dari potongan lirik di atas, maka akan banyak ditemukan berbagai macam bahasa alay yang gak semua orang bisa memahaminya seperti seperti bohay, jablay, koboy kucay dan lain-lain. Tapi justru ini menambah lagu ini enak untuk didengar dan asyik untuk dinyanyikan.
Alay sendiri adalah singkatan dari ALah lebAY. Istilah ini untuk menggambarkan anak sok keren secara fashion, karya, maupun kelakuan secara umum, atau dengan kata lain narsis.com. Sok pengen gaul, niatnya ngikutin trend atau up to date, tapi terlalu lebay. Pokoknya terlalu berlebihan dalam segalanya.
Dalam upaya membuka kabut kesalahpahaman bahasa dalam filsafat, Wittgenstein berkeyakinan bahwa penyelidikan filosofis mesti dihantar pada konteks penggunaan bahasa dalam kalimat dan dalam hubungan antara kalimat itu dengan tindakan bahasa tertentu. Hal ini diasumsikan oleh gagasan yang menyatakan bahwa setiap penggunaan bahasa memiliki aturan main tersendiri. Sebuah tanda menjadi hidup atau menjadi bermakna justru dalam penggunaannya. Makna kalimat adalah tergantung penggunaannya dalam bahasa sedangkan makna bahasa adalah tergantung penggunaannya dalam hidup. Oleh karena itu, Wittgenstein menyaranka agar pemahaman terhadap bahasa mesti diananlisis berdasarkan penggunaannya dalam konteks-konteks tertentu (meaning in use).
Bahasa mempengaruhi penggunaan bahasa, entah itu dari sisi dialek atau tata bahasa yang digunakan. Ditinjau dari segi tersebut, Kang Ebik sebagai pencipta lagu ini berasal dari Jawa bagian barat, maka dari itu, dalam lagu ini menonjol sekali aksen ke-jawa barat-annya. Apa lagi ditambah dengan penyanyi asli Lisa menyanyikan dengan logat sundanya yang kental.
Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu:
1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar.
2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam.
3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar.
Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: